Sunday, September 17, 2006

Malaikatku



Hafizh itu malaikatku. Disampingnya reda sedihku, berkurang rasa sakitku, hilang marahku. Tangan mungilnya, bahasa lugunya, bintang-bintang matanya selalu mampu menghibur.

Sangat sulit menyembunyikan perasaan didepannya.

Caraku menata hati adalah dengan diam. Berbaring sambil memejamkan mata biasanya membantu. Tapi Hafizh hampir selalu tau kalau aku bukan sekedar berbaring. Biasanya ia akan memaksa mencari mataku, lalu senyumnya mengembang lebar sekali, menuntutku balas tersenyum.

Dari senyuman balasanku ia akan tau kalau ada yang tidak biasa.
Kalau senyumku (mungkin) garisnya berbeda, air mukanyapun langsung berubah. Ibu kenapa? Sakit? atau Ibu marah ya? atau Ibu lagi sedih?.

Kalau lagi mampu berdusta (maaf ya Nak) kujawab saja aku sedang pusing, ingin tidur sebentar. Nanti ia akan menyelimutiku lalu mengecup keningku.

Tapi kadang saat galau sedang memuncak aku cuma bisa menggelengkan kepala. Tapi ia menolak jawaban itu.
Cengengnya aku, kadang gak mampu menahan air mata didepannya.

Biasanya langsung dipeluknya kepalaku, sambil sst..sst...cep..cep.. dan tangannya menyeka air mataku. Kalimat pamungkasnya Ibu jangan sedih, nanti aku ikutan sedih.
Matanya juga ikut berkaca.

Setelah tangisku reda, baru perlahan ia tanya Ibu tadi nangis kenapa?. Dibuatnya aku seperti anak kecil.

Aneh, anak-lima-tahun itu selalu bisa membuatku curhat. Kadang ia cuma mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Kadang 'nasihat jitu' mengalir dari bibir mungilnya. Segera membuatku tertawa lagi.
Binar matanya saja sudah mampu menghibur. Cintanya itu menyembuhkan.

Subhanallah, terima kasih telah Kau kirim malaikat ini untukku.


previous comment

No comments: