
Haqqi: Aku bingung nih, diajak ikut Ayah kerja tapi kok kantor Ayah
di tengah kebun begini ya?
^_*
Memangnya setelah lampu merah Al-Azhar menuju blokM itu masih wilayah tri-in-wan ya?. Sungguh kami berdua nggak tau. Pantas saja semalam mobil kami distop sama pak polisi.
Polisi : bla..bla..bla
Suami : ya sudah ditilang aja pak
Polisi : kalau ditilang nanti dendanya 125ribu pak
Suami : iya nggak papa, saya mau buru-buru shalat maghrib nih pak
Pak polisi pergi membawa SIM suami saya dan bergaya seperti mau membuat
Suami : nanti biar saya bayar di ATM aja pak
Polisi : sudah titip disini aja ya, berapa aja deh (dengan nada gak tau malu, malu? bahasa apa tuh? :p)
Suami : aduh pak, saya benar-benar mau ngejar magrib (nggak bohong, maghrib bentar
lagi abis)
Polisi : jadi nggak mau nitip denda disini? bla..bla..bla (intinya tetep minta uang damai, huh)
Saya terus-menerus menyikut tangan suami saya, memberi kode supaya jangan mau disuruh nyuap. Yang nyuap sama yang disuap dosanya sama. Rugi!.
Suami : terserah bapak deh, saya mau shalat magrib nih (terserah tapi diam aja nggak
ngasih uang, hihi..)
Polisi : ya sudah jalan aja pak (dengan nada kesal, sambil ngasih SIM suami kembali)
Suami : oke makasih pak!
Yang jelas kejadian itu benar-benar berkesan dan mewarnai perjalanan kami menembus macetnya
Jakarta, awal-awal minggu, diguyur hujan, maka lengkaplah kemacetan jalan raya pada jam pulang kantor. Karena suami saya menjemput dengan mobil, sudah bisa dipastikan kami sampai dirumah jauh lebih malam daripada biasanya jika bermotor-ria. Baru jam 8.30 sih, tapi ternyata sudah cukup malam bagi Hafizh & Haqqi karena mereka sudah tidur saat kami tiba di rumah. Dua hari, saya melewatkan saat bercengkerama berempat sepulang kantor karena mereka berdua terlanjur mengantuk saat menunggu kami pulang.
Semalam saya benar-benar termenung disisi kedua bintang saya itu, memandang wajah mereka yang luar biasa surga saat mereka terlelap. Bagaimana mungkin saya bisa melewatkan ritual rutin menjelang tidur bersama mereka, melewatkan acara ngobrol ngalor-ngidul, melewatkan ciuman selamat malam mereka, melewatkan saat mereka berebut dininabobo oleh saya. Bagaimana bisa saya melewatkan salah satu moment yang membahagiakan dalam hidup saya itu.
Mata saya mengembun, saya rindu sekali dengan mereka. Sejuta maaf saya bisikkan ke telinga mereka, semoga mereka membawa serta saya ke dalam mimpi indah mereka.
Damainya tidur malam itu jadi terasa ada yang kurang. Sungguh tak sabar saya menunggu pagi, supaya bisa melihat kembali senyum mereka yang mengembang saat melihat ibunya 'sudah pulang' dan merasakan lagi pelukan hangat mereka yang bertubi-tubi.
Tiba-tiba saya sadari, sepertinya saya keliru selama ini. Ternyata sayalah yang sangat membutuhkan mereka, mungkin lebih daripada mereka membutuhkan saya. :)
HAFIZH, 7 tahun 5 bulan
* Sekarang makin kurus, walau porsi makan gak berubah, makin tinggi kali ya? BB terakhir 28kg (nimbang di RS minggu lalu waktu kena radang tenggorokan)
* Ramadhan tahun ini puasanya sebulan penuh loh, heybat mas!
* Dapet hadiah PSP (PS portable) dari Ayah, jatah mainnya 2 x 1jam sehari, tiap sabtu dan minggu :)
* Mulai September kemarin berangkat sekolah ikut mobil jemputan tiap jam 6.30, kasian si Parijo (motor kita) udah keberatan ditunggangi tiga orang besar tiap pagi :D
HAQQI, 2 tahun 4 bulan
* Bos kecil ini sih kayaknya beratnya masih segitu aja, 13,5 kg (nimbang bareng Mas-nya kemarin, sama kena radang tenggorokan juga)
* Tapi dong makin aktif ;). Kaca meja tamu akhirnya pecah juga (setelah 2 hari diketok2 pake botol balsem, gak bisa dilarang) dan dia cengar-cengir aja walau ibunya pucat lihat jarinya berdarah banyak banget, hiii...
* Masih ngenyot jempol, makin parah dengan variasi kegiatan lainnya selama ngenyot. Kan dia ngenyot jempol tangan kiri, nah jari tangan kanannya pasti ngoprek2 sesuatu. Nomor satu yg dioprek2 yaitu jari tangan ibunya (sampai iritasi pokoknya, hiks), alternatif kedua: bibir ibunya (yg memang cenderung kering). Kalo ibu gak ada, dia ngoprek2 bekas luka yg ada dibadannya sendiri, luka yg hampir kering gitu. Kalo gak ada luka, dia ngoprek2 sablonan gambar di baju/celananya -yg sedang dipakai maupun tidak- sampe mengelupas semua.
Ada yang tau obat ngilangin menghisap jempol gak? ;)
~ 24 Agustus’08.
~ 30 Agustus'08, MP Book Point, Kemang. Launching buku Cooking With Love, a tribute to bunda Inong. Haru, seru, happy jadi satu. Baru buka beberapa lembar bukunya, udah nangis, ngobrol sama Ummi-nya mbak Inong juga mewek, nyimak mbak Ratih-Sang baca puisi juga banjir airmata, hiks. Iya, seperti mbak Ratih-Sang bilang, aku juga cemburu sama mbak Inong, yang punya begitu banyak sahabat yang terus mencintainya meskipun beliau sudah tiada. Aku cemburu dengan banyaknya ilmu yang beliau tinggalkan sehingga menjadi amal yang tidak pernah terputus mengalir untuknya.
Tentang mbak Inong, sebenernya beliau adalah salah satu inspirasiku, yang membuatku sekarang ini bisa akrab sama dapur. Dulu ilmu per-baking-anku sama sekali nol besar, ilmu memasak cuma sebatas ngumpulin resep.
Waktu mas Hafizh masih bayi, aku join milis Dunia-Ibu. Disana aku belajar banyak tentang segala hal yang menyangkut dunia kewanitaan termasuk dapur. Salah satu member yang sering menjadi narasumber masalah seputar dapur ya mbak Inong itu. Pelan-pelan aku mulai tertarik mencoba resep-resep yang mudah. Ngobrol pertama kali dengan beliau tentang fruit pie yang kebetulan mau aku buat dalam jumlah banyak. Selanjutnya makin sering beliau membantu menjawab pertanyaan2ku yang awam ini sampai akhirnya beliau mengundangku menjadi member di milis yang baru saja dibuatnya yaitu milis Dapurbunda.
Sejak itu aku menemukan keasyikan tersendiri di dunia itu, ternyata aku suka bikin kue! Ternyata aku bahagia melihat anakku suka kue buatan ibunya sendiri! Ternyata ada orang lain yang mau membayar kue buatanku! Jadi begitulah, aku kecanduan bikin kue dan sampai sekarang jadi tukang kue amatiran, gak lepas dari perkenalanku dengan mbak Inong (iya sampai detik kepergiannya aku masih memanggilnya dengan Mbak Inong, instead of Teh atau Bunda seperti teman-teman lainnya, udah kebiasaan sejak di Dunia Ibu).
Zaman dulu blogger, apalagi food-blogger, belum seramai sekarang, beliau udah berseliweran dengan gape di dunia maya itu. Aku membuat blog dapur juga terinspirasi dari beliau. Dari mbak Inong aku belajar untuk berbagi. Ilmu dapur yang cuma sedikit ini gak akan pernah pelit untuk aku bagi dengan orang lain.
Semoga kamu bahagia disana ya mbak…
Ke launching buku aku ditemenin sama mas Hafizh, yang exciting mau ketemu Bara Pattiradjawane si Gula Gula tea. Tapi disana mas Hafizh malah betah main di dalam toko buku yang cozy banget itu. Cuma pas Bara demo bikin kue dia duduk manis didepan panggung, selebihnya dia membaca aja didalam toko buku sementara Ibunya temu kangen dengan teman-teman lama dari milis Dapurbunda.

Ratih & Ratih, beda kinclong :))
~ Sehari sebelum puasa, ditraktir Eyangkung makan Bebek Bakar di jalan 
~ Senin 1 September 2008, hari pertama Ramadhan dan hari ultah Ayah! Happy bday ya Ayah, semoga panjang umur dalam sehat dan barokah Allah, semoga semakin berkualitas ibadahnya dan semoga selalu sayang sama daku, mas dan abang ;)

~ Kenapa juga harus tutup dapur? Ntar pelanggan elu kabur loh! Kurang lebih gitu deh komentar beberapa rekan waktu aku bilang libur bikin kue di puasa & lebaran tahun ini. Biarin deh, insyaAllah rezeki gak kemana-mana ya, yang penting Ramadhanku dan keluargaku tahun ini harus lebih baik daripada tahun lalu, InsyaAllah. Amiin.
~ Hari ini sudah hari ke-4 Ramadhan, mas Hafizh –Alhamdulillah- masih semangat berpuasa. Bangun sahur juga gak susah, makan & minumnya banyak (biar kuat katanya), dan gak tidur lagi setelah sahur, langsung siap-siap sekolah dan nunggu dijemput -sekitar jam 6.30 pagi- sambil baca komik :D. Oiya, pas bulan puasa ini mas berangkat ikut jemputan sekolah juga (biasanya
Siang haripun mas gak banyak mengeluh seperti tahun lalu, yang bolak-balik telpon Ibu minta izin minum, hehe. Tahun ini malah Ibu yang bolak-balik nanya,
Masih kuat mas?
Kuat dong buu… :)
Terus semangat sampai akhir Ramadhan ya mas..
Terhenyak, lalu menangis. Cuma itu saja yang bisa kulakukan waktu sms duka itu sampai ke ponselku. Mbak Ruri, aku belum lagi sempat menjengukmu selama di rumah sakit, mbak. Maafkan aku ya. Bahkan malam dan esoknya aku gak bisa menjumpaimu untuk terakhir kali. Percaya nggak mbak, malam itu aku begadang -karena harus menyelesaikan order 3 buah kue besar- sambil selalu mengenangmu. Mengingat kemurahan hatimu membagikan resep (muffinmu mbak, jadi idola sulungku selalu). Mengenang ketabahan & keceriaanmu dalam menutupi sakitmu. Meneladani pengorbananmu untuk putrimu (menunda kemo demi kehamilan, Subhanallah, betapa keputusan sulit yang karena cintalah berhasil kau lewati). Lalu membayangkan kedua putrimu yang kau tinggal (yang ini nggak bisa tanpa airmataku mengalir), ya Allah.. jaga dan cintailah mereka wahai Sang Maha Penjaga dan Maha Cinta.
Ini rasa yang sama seperti waktu mbak Inong berpulang. Apakah aku bisa seperti mereka, yang pergi sambil didoakan banyak orang, meninggalkan banyak ilmu yang menjadi amal tak putus mengalir.
Selamat jalan sahabat... semoga Allah SWT mempertemukan kita dalam kumpulan orang-orang yang beruntung di yaumil hisab kelak. Amiin.
Sawangan, 7 Agustus 2008
:setelah dua malam nggak tidur,
full bikin kue sambil ingat mbak Ruri
Sebentar lagi mas Hafizh akan masuk Grade-2 -sudah nggak sabar tuh dia mau sekolah Senin besok-. Foto di dalam kelas tercinta ini biar jadi kenang-kenangan mas Hafizh bersama teman-teman dan guru-guru di Grade-1.
baris belakang, kiri ke kanan:
Saskia, Diani, Mabel, Kailin, Teacher Yulia, Ila, Nafila, Aqila, Linda, Miria
baris tengah, kiri ke kanan:
Teacher Ranto, Hanif, Papee, Didan, Arda, Nisa
baris depan, kiri ke kanan:
Ali, Naren, Savero, Reva, Alif, Faiz, Sandy, Rasyid, Teacher Chairin, Hafizh
Kemarin kutanya: kamu bahagia?
Anggukmu ternyata berhasil mengusir sebagian galauku. Apalagi yang lebih penting dari itu? Klise, tapi ternyata benar. Jargon norak ‘bahagiamu bahagiaku’ sudah berlaku disini.
Lalu galau yang sebagian lagi? Dengan suka cita kukembalikan kepada Sang Maha, agar Dia mengubahnya segera menjadi keyakinan & kemantapan hati, bahwa inilah yang terbaik.
Delapan! Meski membuai, tapi penuh pembelajaran. Semoga menjadi modal kuat untuk sembilan, dua belas, dua
Memantapkan kembali tujuan akhir kita, meraih ridhoNya. InsyaAllah.
Kangen kamu banget!